Hampir pukul 5 sore ketika Pesawat boeing 737-200 milik Singapore Airlines memasuki kawasan langit singapura, langit yang sama yang menaungi negaraku, tapi yang membuatnya berbeda adalah apa yang ada di bawah sana. Bentangan alam seluas 707 km persegi, dan jaraknya hanya selemparan batu dari ibukota tercinta (selemparan batu jika dikonversi ke satuan internasional = 1100km)
Adrenalin berdesir seiring dengan senyum yang melintas, hmm..petualangan baru lagi… sebelumnya dua kali ke negara ini, paling jauh cuma 200m dari jetty dan langsung ke Changi Airport. Sekarang berbeda, terbuka kesempatan untuk menjelajahi lebih jauh negara mini ini….rencana telah dibuat..tinggal diamalkan!
Changi airport, bandara terbaik di asia tenggara atau malah kini sudah menjadi yang terbaik di seluruh dunia (tahun 2003 terpilih menjadi the best world wide airport oleh suatu majalah travel yang belum pernah saya baca–so?!)…Turun dari pesawat ada 2 pilihan untuk segera menuju pintu keluar dari bandara, jalan kaki atau naik Skytrain—semacam gondola di dufan, tapi jelas yang ini lebih luas dan lebih bersih–. Pilihan pertama yang diambil, sambil jeprat jepret sana sini dengan kamera Nikon Coolpix P80–ini benar-benar cuma 2 kali ambil foto,jeprat yang sana, jepret yang sini, jadi jeprat jepret sana sini—tak lupa brosur dan peta tourism singapore diambil..langkah diteruskan menuju pihak imigrasi…disini wajah harus cukup innocent untuk bisa dapat cap visa di paspor (pernah seorang teman diperiksa,hingga tas nya dibongkar, gara-gara wajahnya dipenuhi cambang). sekitar 15an loket membatasi kita dengan dunia luar sana….nah itu dia pilih loket yang dijaga ibu-ibu berbobot lebih dari 90kg (analisis singkat: 1.ibu-ibu, lebih punya unsur kasihan dibanding bapak-bapak. 2.Berbobot > 90 kg, di hari yang sudah sore, orang2 berlemak banyak lebih mudah cape dan penat, jadi mungkin ibu ini tak akan banyak bertanya) yap, thats right!!!
dialog yang terjadi pun sangat singkat adanya, sambil liat-liat paspor sebentar kemudian sang ibu bertanya, “Kerja di Laut?”
“iya”, Saya menjawab
“Mau kerja di kapal?”, Si ibu kembali bertanya
“Nggak, liburan” Saya kembali menjawab.
Dan si ibu pun membubuhkan cap magis nya, mengembalikan paspor saya, lalu berkata “Silakan tampan, arungi dunia mu, jelajahi hingga nun jauh!!!”(sayang, kalimat terakhir hanya ada dalam imajinasi penulis).
Singkat cerita, saya sudah berada dalam taksi menuju kawasan timur, Loyang Valley nama tempatnya, sepanjang jalan yang terlihat adalah pepohonan rindang,lalu lintas terkendali dan lingkungan yang bersih…tanpa ada papan pengumuman “Jagalah Kebersihan”….
Tiba di tempat tujuan, langsung packing lagi, siap2 bawa kamera dan peta, saya akan memburu sang singa di kandangnya…saya akan ke Merlion park, Tempat sang Singa Merlion berada…tapi kita buka puasa dulu lah…waktu buka puasa di sini sekitar pukul 7.00,oke cukup seteguk air dan sebatang coklat, langsung berangkat. Dengan informasi awal berupa peta dan tekad membaja dan tak lupa bertanya, saya mulai melangkahkan kaki.
Untuk ke Merlion park saya berencana ke stasiun MRT terdekat dulu, MRT ini kereta cepat yang menjangkau seluruh negeri…yaa kan negerinya cuma segitu-gitunya…(untuk hal coverage ini PT KAI bisa lebih berbangga). Liat peta, kayanya dekat nih, oke, supaya lebih yakin mari kta tanyakeun ke security yang tampak di depan mata.
“Permisi, Pak kalo ke Stasiun MRT Pasir Ris kemane jalannye?”
“Mmm..ente jalan terus, ketemu lampu merah belok kanan dah”
“oooh….kalo pegi jalan kaki kire-kire brape lame tuh?”
“Busyet dah…! mo jalan kaki nih bocah..mendingan naik bes dah…jauh..30 menitan”
“oow..ga ape-ape pak saya jalan aje,mari”
(Percakapan telah ditranslate menggunakan transtool)
Lets go walk then, dalam hati, ah 30 menit sejauh apa sih, liat di peta jaraknya sepanjang jari kelingking doang (dalam hal ini penulis jelas tak mengindahkan skala peta).
5 menit perjalanan…santai…di sebrang jalan ada tempat makan, rame, kayanya nanti bisa dicoba
10 menit perjalanan…ooow melewati masjid, namanya Al-istighfar, oke shalat ied nya nanti di sini aja…
20 menit….udah 5 perempatan di lewati, tanya lagi ah, untuk mempertebal keyakinan bahwa saya ada di jalan yang benar, kali ini korbannya bapak2 bergamis yang lagi siap2 mo tarawih, “Pak, kalo ke Stasion MRT jalannya lurus terus kah?”
“iYa, tapi mendingan naik bus, masih jauh de”
Oke , thanks terima kasih saya terus jalan sajah…
45 menit…keringat bercucuran dan rasa lapar menyeruak, tapi yang dicari belum menunjukkan batang hidungnya, berapa lampu merah di lewati sudah tak peduli, oi mana nih 30 menit…
Akhirnya, saat jarum jam menunjukkan 8 lewat 20 menit, Stasiun MRT Pasir Ris telah tampak di depan wajah, artinya butuh waktu 75 menit untuk sampai di sini, terbayang si security berkata ” Ceuk urang ge naon!!”
Langsung masuk ke stasiun terus beli kartu EZ-link Card, kartu praktis berharga S$15 dengan isi S$10, S$5 lagi deposit, bisa dipake untuk naik MRT ato naik Bus se singapore, tinggal di dekatkan saja ke mesin elektronik nya, portal ke buka, langsung cari train nya yang ke arah mana, berhubung Pasir ris ini stasiun yang paling ujung(jalur East-West), jadi jalur kiri ataupun kanan sama saja mengarah menuju jantung singapura. Waktu Keberangkatan akan diumumkan melalui papan elektronik. Saya bergegas masuk dan mengambil spot yang enak untuk mangamati sekitar. Kereta siap berangkat, pintu secara otomatis tertutup, dan melantunlah sebuah pengumuman dari seorang wanita yang tak dikenal ” Next Stop, Dukuh Atas, check your belongings and step carefully, thank you” (whats!!??)
Dari Pasir Ris saya akan menuju stasiun City Hall, stasiun terdekat ke Merlion Park, waktu tempuh yang diperkirakan adalah 27 menit. Dalam perjalanan saya berpikir,Manusia-manusia singapore ini sudah sampai pada suatu titik nyaman tertentu, sehingga mereka sanggup berkreatifitas mencipta teknologi. Titik nyaman yang saya artikan sebagai “kecukupan” ekonomi.Hmm…nanti sajalah kita bahas…
Tiba di city hall, keluar menuju ke arah North Bridge Road, nah mulai dari sini saya harus kembali bertanya, karena peta sudah tak reliable lagi untuk jarak dekat.
Yang menarik adalah bahwa ternyata tak semua orang bisa menunjukkan jalan kesana, dari 5 orang yang saya tanyakan, 3 china,1 melayu dan 1 bule, semuanya mengaku tak tahu. Mmh…its ok, insting petualang mulai dipancang…
Hasilnya, not very bad at all, I’m lost!!! Memotong jalan Nicoll Highway,Naik ke Suntec City,lalu tembus ke tempat parkir gedung seberang, masuk ke dalam tunnel, menyusuri taman di seberang Supreme Court yang luar biasa sepi, berjalan di bawah Esplanade Theater dan melihat mata Sir Stamford Raffles yang lelah berdiri dalam balutan perunggu. Selidik demi selidik ternyata Yang akhirnya membuat saya harus berputar2 adalah banyak jalan-jalan kota dipagari pembatas, untuk persiapan GP Singapore formula 1 tanggal 28 september. 
Semangat mulai padam meluruh, ah tapi coba kita tanya 1 orang lagi, kali ini orang india,… dan telunjuk tangannya pun terangkat mengarah ke timur, gesturnya menunjukkan bahwa Patung Merlion ada “di situ tuh”, yang akal saya kemudian mengkonversikan “di situ tuh” tak lebih dari 500m.
100m, 200m…menyeberangi esplanade drive….dan itu dia di sana tertutup pohon-pohon palem, dikelilingi puluhan orang, kokoh berdiri menghadap Singapore River,tepat jam 10.55 pm, Saya menjumpai sang singa langsung di kandangnya…



Mauuu ikut…..